Stanley Milgram (1933–1984): Ketika Ketaatan Menguji Nurani

11 Nov 2025
Image

“The obedient person is not evil; he is merely an ordinary human being caught in a system where obedience is easier than resistance.”

 — Stanley Milgram

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Stanley Milgram lahir pada 15 Agustus 1933 di New York City dari keluarga Yahudi kelas pekerja. Ayahnya seorang pembuat roti, dan ibunya dikenal tekun dan penuh kasih. Sejak kecil, Milgram gemar sains dan seni, serta menunjukkan kecerdasan yang menonjol. Ia menempuh pendidikan di Queens College dengan jurusan ilmu politik, lalu sempat diterima di Columbia University sebelum akhirnya memilih menekuni psikologi sosial di Harvard University.Di Harvard, ia belajar dari tokoh-tokoh besar seperti Gordon Allport dan Solomon Asch, yang eksperimen konformitasnya sangat memengaruhi arah penelitiannya. Disertasinya membandingkan tingkat konformitas di Norwegia dan Prancis, membuktikan bahwa kecenderungan untuk menyesuaikan diri merupakan sifat universal manusia.

Eksperimen Ketaatan: Ketika Nurani Diuji oleh Otoritas

Setelah meraih gelar Ph.D. pada tahun 1960, Milgram bergabung dengan Yale University dan melakukan eksperimen yang kemudian dikenal sebagai The Milgram Experiment. Terinspirasi oleh laporan Hannah Arendt tentang pengadilan Adolf Eichmann, ia ingin memahami bagaimana orang biasa bisa melakukan tindakan kejam hanya karena diperintah. Dalam eksperimen tersebut, peserta yang berperan sebagai “guru” diminta memberikan kejutan listrik kepada “murid” setiap kali salah menjawab. Tanpa mereka tahu, alat itu palsu, dan “murid” hanyalah aktor. Hasilnya mengejutkan: 65% peserta menaati perintah hingga level tegangan tertinggi, meski tampak tersiksa secara emosional. Eksperimen ini menunjukkan bahwa manusia dapat melakukan hal yang bertentangan dengan moralitas pribadi ketika tanggung jawab dialihkan kepada otoritas.

Kontroversi dan Eksperimen Lanjutan

Eksperimen Milgram memicu perdebatan etika besar karena tekanan psikologis yang dialami peserta, namun juga mendorong lahirnya standar etika baru dalam penelitian manusia. Setelah meninggalkan Yale, Milgram melanjutkan penelitian di Harvard, termasuk Small World Experiment yang melahirkan konsep six degrees of separation, serta Lost Letter Experiment yang meneliti sikap sosial masyarakat melalui surat-surat yang “hilang”.

Karya dan Warisan

Sepanjang kariernya, Milgram menulis sejumlah karya penting, termasuk:

  • Obedience to Authority: An Experimental View (1974)

  • The Individual in a Social World: Essays and Experiments (1977)

Ia juga memproduksi film dokumenter: Obedience (1965) dan The City and the Self (1972).

Pada tahun 1967, Milgram kembali ke kampung halamannya, New York City, untuk memimpin program psikologi sosial di Graduate Center, City University of New York (CUNY). Di sana ia tetap aktif menulis dan meneliti hingga akhir hayatnya. Stanley Milgram meninggal dunia karena serangan jantung pada 20 Desember 1984, pada usia 51 tahun. Meskipun hidupnya singkat, warisannya bertahan lama. Ia menempati posisi ke-46 dalam daftar “100 Psikolog Terbesar Abad ke-20” versi American Psychological Association (APA).

Dan, pertanyaannya tetap relevan hingga kini: “Seberapa jauh manusia akan taat, bahkan ketika ketaatan itu menyakiti sesamanya?”

Layanan konseling professional, kami membantu individu dan organisasi mengatasi tantangan mental, memberikan dukungan yang efektif dan solusi yang praktis. Kunjungi sekarang juga di www.PsikologKakgun.com

Referensi:

Hall, William. “Stanley Milgram.” Harvard.edu, 2000, psychology.fas.harvard.edu/people/stanley-milgram.

Rogers, Kara. “Stanley Milgram | American Social Psychologist.” Encyclopædia Britannica, 16 Dec. 2018, www.britannica.com/biography/Stanley-Milgram.

Category:

Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito

Admin Psikolog Gunawan Soewito
628123456789
Halo kak, ada yang bisa kami bantu?
×